Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

DIREKTORAT JENDERAL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN  PENYAKIT

 

 

Bagian Pertama

 

Kedudukan, Togas, dan Fungsi

 

Pasal 261

 

(1)    Direktorat  Jenderal   Pencegahan  dan  Pengendalian  Penyakit  berada  di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri.

(2)     Direktorat  Jenderal  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dipimpin oleh

 

Direktur J enderal.

 

Pasal262

 

Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mempunyai tugas menyelenggarakan   perumusan    dan    pelaksanaan    kebijakan     di     bidang pencegahan dan  pengendalian  penyakit  sesuai  dengan ketentuan  peraturan perundang-undangan.

 

Pasal 263

 

Dalam   melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam    Pasal   262, Direktorat Jenderal  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menyelenggarakan fungsi:

  1. a. perumusan  kebijakan   di  bidang  surveilans  epidemiologi dan  karantina,

 

pencegahan  dan  pengendalian  penyakit  menular,  penyakit  tular vektor, penyakit  zoonotik,  dan  penyakit  tidak  menular,  serta  upaya kesehatan jiwa dan Narkotika,  Psikotropika,  dan Zat adiktif lainnya  (NAPZA);

  1. pelaksanaan  kebijakan  di  bidang surveilans  epidemiologi dan  karantina, pencegahan dan  pengendalian  penyakit  menular,  penyakit  tular vektor, penyakit  zoonotik,  dan  penyakit  tidak  menular,  serta  upaya  kesehatan jiwa dan Narkotika,  Psikotropika,  dan Zat adiktif lainnya  (NAPZA);
  2. penyusunan  norma, standar,  prosedur dan kriteria di  bidang surveilans

 

epidemiologi  dan   karantina,    pencegahan   dan   pengendalian   penyakit menular,   penyakit  tular  vektor,   penyakit  zoonotik,   dan  penyakit  tidak menular, serta upaya kesehatan jiwa dan Narkotika,  Psikotropika,  dan Zat adiktif lainnya  (NAPZA);

 

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 65  -

 

  1. pemberian    bimbingan    teknis    dan    supervisi   di     bidang   surveilans epidemiologi  dan   karantina,    pencegahan  dan   pengendalian   penyakit menular,   penyakit  tular  vektor,  penyakit  zoonotik,   dan  penyakit  tidak menular,  serta upaya kesehatan jiwa dan Narkotika,  Psikotropika,  dan Zat adiktif lainnya  (NAPZA);
  2. pelaksanaan evaluasi  dan pelaporan di bidang surveilans  epidemiologi dan karantina, pencegahan dan pengendalian penyakit menular, penyakit tular vektor,   penyakit   zoonotik,   dan   penyakit  tidak   menular,   serta  upaya kesehatan  jiwa  dan  Narkotika,   Psikotropika,   dan   Zat  adiktif  lainnya (NAPZA);
  3. f. pelaksanaan     administrasi     Direktorat      Jenderal     Pencegahan    dan

Pengendalian Penyakit;  dan

  1. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

 

 

Bagian  Kedua

Susunan Organisasi

 

Pasal 264

 

Direktorat Jenderal  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit terdiri dari atas:

  1. a. Sekretariat Direktorat Jenderal;
  2. Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan;
  3. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung;
  4. Direktorat   Pencegahan  dan  Pengendalian    Penyakit   Tular   Vektor  dan

Zoonotik;

  1. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular;  dan
  2. f. Direktorat   Pencegahan  dan  Pengendalian Masalah   Kesehatan   Jiwa  dan

NAPZA.

 

 

Bagian Ketiga

Sekretariat Direktorat Jenderal

 

Pasal 265

 

Sekretariat Direktorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas dan pemberian dukungan administrasi Direktorat Jenderal Pencegahan dan  Pengendalian  Penyakit  sesuai  dengan ketentuan  peraturan perundang-undangan.

 

Pasal 266

 

Dalam    melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud    dalam   Pasal   265, Sekretariat Direktorat Jenderal  menyelenggarakan fungsi:

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 66-

 

  1. koordinasi   dan  penyusunan   rencana,    program,   dan   anggaran   dan pengelolaan data dan informasi;
  2. pengelolaan urusan  keuangan dan barang milik negara;
  3. c. penyiapan  koordinasi dan pelaksanaan  urusan  hukum,  organisasi,  tata laksana,  dan hubungan masyarakat;
  4. pelaksanaan  urusan   kepegawaian,   ketatausahaan,    kerumahtanggaan, arsip, dokumentasi dan layanan  pengadaan;  dan
  5. pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan.

 

Pasal 267

 

Sekretariat Direktorat Jenderal terdiri atas:

  1. Bagian  Program dan Informasi;
  2. Bagian  Hukum,  Organisasi,  dan Hubungan  Masyarakat;
  3. Bagian Keuangan  dan Barang Milik Negara;
  4. Bagian  Kepegawaian  dan Umum;  dan e.      Kelompok Jabatan Fungsional.

Pasal 268

 

Bagian Program dan Informasi mempunyai tugas melaksanakan  penyiapan koordinasi dan penyusunan  rencana,  program, dan anggaran dan pengelolaan data dan informasi,  dan pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan.

Pasal 269

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal 268, Bagian

Program dan lnformasi  menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan  bahan   koordinasi  dan  penyusunan   rencana,   program,  dan anggaran;
  2. pengumpulan, pengolahan, dan penyajian  data dan informasi;  dan
  3. pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan.

 

Pasal 270

 

Bagian Program dan Informasi terdiri atas:

  1. Subbagian  Program;
  2. Subbagian Anggaran;  dan
  3. Subbagian  Informasi  dan Evaluasi.

 

Pasal 271

 

(1)     Subbagian   Program  mempunyai   tugas   melakukan   penyiapan   bahan koordinasi dan penyusunan rencana dan program;

(2)     Subbagian   Anggaran   mempunyai  tugas   melakukan   penyiapan   bahan

koordinasi dan penyusunan  rencana anggaran; dan

(3)  Subbagian  Informasi  dan  Evaluasi mempunyai  tugas melakukan pengumpulan,   pengolahan,   dan   penyajian    data   dan   informasi   dan pemantauan, evaluasi,  dan pelaporan.

 

 

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

-  67 -

 

Pasal272

 

Bagian Hukum, Organisasi, dan Hubungan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan   penyiapan    koordinasi   dan   pelaksanaan    urusan    hukum, organisasi dan tata laksana,  dan hubungan masyarakat.

 

Pasal273

 

Dalam melaksanakan  tugas sebagaimana dimaksud dalam  Pasal  272,   Bagian

Hukum,  Organisasi, dan Hubungan Masyarakat menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan  bahan   koordinasi  dan   penyusunan   rancangan   peraturan perundang-undangan;
  2. penyiapan bahan  penataan  dan evaluasi organisasi dan tata laksana, serta fasilitasi implementasi reformasi birokrasi;  dan
  3. pelaksanaan urusan  advokasi hukum dan hubungan masyarakat.

 

Pasal 274

 

Bagian Hukum,  Organisasi,  dan Hubungan  Masyarakat terdiri atas:

  1. Subbagian  Peraturan Perundang-undangan;
  2. Subbagian Organisasi dan Tata Laksana;  dan
  3. Subbagian Advokasi Hukum dan Hubungan Masyarakat.

 

Pasal 275

 

(1)    Subbagian Peraturan Perundang-undangan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan koordinasi dan penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dan perjanjian kerja sama.

(2)    Subbagian  Organisasi  dan  Tata Laksana  mempunyai  tugas  melakukan penyiapan bahan  penataan  dan evaluasi organisasi, analisis jabatan, peta jabatan,   analisis    beban   kerja,    dan   tata   laksana,    serta   fasilitasi implementasi reformasi birokrasi.

(3)    Subbagian   Advokasi   Hukum   dan  Hubungan   Masyarakat   mempunyai tugas  melakukan  penyiapan  bahan  koordinasi pemberian  pertimbangan hukum,  advokasi hukum,  dan urusan hubungan masyarakat.

 

Pasa1276

 

Bagian  Keuangan  dan Barang Milik  Negara  mempunyai tugas  melaksanakan urusan keuangan dan pengelolaan barang milik  negara.

 

Pasal 277

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal  276,   Bagian

Keuangan dan Barang Milik Negara menyelenggarakan fungsi:

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 68 -

 

  1. a. pelaksanaan urusan perbendaharaan;
  2. pelaksanaan urusan verifikasi dan akuntansi;  dan c.      pengelolaan barang milik negara.

 

Pasal278

 

Bagian Keuangan  dan Barang Milik Negara terdiri  atas:

  1. Subbagian  Perbendaharaan;
  2. Subbagian Verifikasi  dan Akuntansi;  dan
  3. Subbagian  Pengelolaan Barang Milik Negara.

 

Pasal 279

 

(1)     Subbagian   Perbendaharaan   mempunyai   tugas   melakukan  penyiapan bahan perbendaharaan, dan urusan tata usaha keuangan, tuntutan perbendaharaan,  dan tuntutan ganti rugi.

(2)     Subbagian    Verifikasi    dan   Akuntansi    mempunyai    tugas   melakukan verifikasi,  pembukuan,  akuntansi,  dan pelaporan keuangan.

(3)    Subbagian Pengelolaan Barang Milik  Negara mempunyai tugas melakukan penatausahaan,  pemanfaatan, dan penghapusan,  serta pelaporan barang milik  negara.

 

Pasal280

 

Bagian  Kepegawaian   dan  Umum  mempunyai   tugas  melaksanakan  urusan kepegawaian, pengelolaan layanan  pengadaan barang/jasa,  kerumahtanggaan,

kearsipan, dan dokumentasi.

Pasal 281

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal  280, Bagian

Kepegawaian  dan Umum menyelenggarakan fungsi:

  1. a. pelaksanaan urusan kepegawaian;
  2. pengelolaan layanan  pengadaan barang/jasa;
  3. pelaksanaan urusan  tata  persuratan,   kearsipan  dan  dokumentasi,  dan gaji;  dan
  4. pengelolaan urusan  rumah tangga dan perlengkapan.

 

Pasal282

 

Bagian Kepegawaian  dan Umum terdiri atas:

 

  1. Subbagian  Kepegawaian;
  2. Subbagian  Layanan  Pengadaan; dan
  3. Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga.

 

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 69  - Pasal 283

(1)     Subbagian  Kepegawaian  mempunyai tugas melakukan analisis  kebutuhan

 

dan   perencanaan    pegawai,  mutasi   pegawai,  pengisian   jabatan,   dan pengelolan jabatan fungsional.

(2)    Subbagian      Layanan      Pengadaan     mempunyai     tugas     melakukan penatausahaan layanan  pengadaan barang/jasa.

(3)     Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga mempunyai tugas melakukan urusan  tata persuratan,  kearsipan dan dokumentasi, gaji,  rumah tangga dan perlengkapan.

 

 

Bagian  Keempat

 

Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan

 

 

Pasal 284

 

Direktorat     Surveilans     dan     Karantina     Kesehatan      mempunyai     tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar,    prosedur,    dan   kriteria,    dan   pemberian    bimbingan   teknis   dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan  di  bidang surveilans dan karantina    kesehatan    sesuai    dengan   ketentuan    peraturan    perundang- undangan.

 

Pasal 285

 

Dalam   melaksanakan   tugas   se bagaimana    dimaksud     dalam    Pasal   284, Direktorat  Surveilans  dan Karantina Kesehatan  menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan  perumusan   kebijakan  di  bidang  surveilans,  penyakit  infeksi emerging, kekarantinaan  kesehatan, dan imunisasi;
  2. penyiapan pelaksanaan  kebijakan  di  bidang surveilans,  penyakit infeksi

 

emerging,  kekarantinaan  kesehatan, dan imunisasi;

 

  1. penyiapan penyusunan norma, standar,  prosedur, dan kriteria di  bidang surveilans, penyakit infeksi emerging, kekarantinaan kesehatan, dan imunisasi;
  2. penyiapan pemberian  bimbingan teknis dan supervisi di bidang surveilans,

 

penyakit infeksi emerging,  kekarantinaan  kesehatan,  dan imunisasi;

 

  1. pemantauan,  evaluasi,  dan  pelaporan  di   bidang  surveilans,  penyakit infeksi emerging,  kekarantinaan  kesehatan, dan imunisasi;  dan
  2. f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 70  - Pasal286

Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan  terdiri atas:

  1. Subdirektorat  Surveilans;
  2. Subdirektorat Penyakit Infeksi Emerging; c.      Subdirektorat Kekarantinaan Kesehatan; d.     Subdirektorat Imunisasi;
  3. Subbagian Tata Usaha;  dan
  4. f. Kelompok Jabatan Fungsional.

 

Pasal 287

 

Subdirektorat  Surveilans  mempunyai  tugas  melaksanakan  penyiapan perumusan   dan   pelaksanaan    kebijakan,    penyusunan   norma,    standar, prosedur, dan kriteria,  dan  pemberian bimbingan teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan di bidang surveilans.

 

Pasal 288

 

Dalam   melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam    Pasal   287, Subdirektorat  Surveilans menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan bahan  perumusan  kebijakan  di  bidang kewaspadaan  dini dan

respon kejadian  luar biasa dan wabah;

  1. penyiapan bahan  pelaksanaan  kebijakan  di  bidang kewaspadaan  dini dan respon kejadian  luar biasa dan wabah;
  2. c. penyiapan bahan  penyusunan  norma,   standar,  prosedur, dan kriteria  di

bidang kewaspadaan dini dan respon kejadian  luar biasa dan wabah;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan supervisi di  bidang kewaspadaan dini dan respon kejadian luar biasa dan wabah;  dan
  2. pemantauan,   evaluasi,  dan  pelaporan  di  bidang  kewaspadaan  dini dan

respon kejadian  luar biasa dan wabah.

Pasal 289

Subdirektorat  Surveilans terdiri atas:

  1. Seksi Kewaspadaan  Dini; dan
  2. Seksi Respon Kejadian  Luar Biasa dan Wabah.

 

Pasal 290

 

( 1)    Seksi Kewaspadaan  Dini mempunyai tugas  melakukan  penyiapan  bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan di bidang kewaspadaan dini.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 71  -

 

(2)    Seksi   Respon   Kejadian    Luar   Biasa   dan   Wabah   mempunyai   tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan  norma,   standar,   prosedur,  dan  kriteria,   dan  pemberian bimbingan   teknis   dan   supervisi,   serta   pemantauan,    evaluasi,   dan pelaporan di bidang respon kejadian  luar biasa dan wabah.

 

Pasal 291

 

Subdirektorat   Penyakit   lnfeksi   Emerging mempunyai  tugas   melaksanakan penyiapan   perumusan    dan   pelaksanaan    kebijakan,    penyusunan   norma, standar,   prosedur,   dan   kriteria,    dan   pemberian   bimbingan   teknis   dan supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan  di   bidang  penyakit infeksi  emerging.

 

Pasal 292

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal 291, Subdirektorat Penyakit Infeksi Emerging menyelenggarakan  fungsi:

  1. a. penyiapan bahan  perumusan  kebijakan  di  bidang deteksi dan intervensi penyakit infeksi  emerging;
  2. penyiapan bahan  pelaksanaan  kebijakan di  bidang deteksi dan intervensi penyakit infeksi  emerging;
  3. c. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan  kriteria di bidang deteksi  dan intervensi  penyakit infeksi  emerging;
  4. penyiapan  bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang deteksi dan

 

intervensi  penyakit infeksi emerging;  dan

  1. pemantauan,  evaluasi,  dan  pelaporan  di   bidang  deteksi  dan  intervensi penyakit infeksi emerging.

 

Pasal 293

 

Subdirektorat Penyakit Infeksi Emerging terdiri atas:

  1. a. Seksi Deteksi  Penyakit Infeksi  Emerging;  dan      Seksi Intervensi  Penyakit Infeksi  Emerging.

 

Pasal294

 

( 1)    Seksi  Deteksi  Penyakit  Infeksi  Emerging  mempunyai  tugas  melakukan penyiapan  bahan  perumusan   dan  pelaksanaan   kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian  bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan  di   bidang deteksi penyakit infeksi  emerging.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 72 -

 

(2)    Seksi lntervensi  Penyakit Infeksi  Emerging mempunyai  tugas melakukan penyiapan  bahan  perumusan   dan  pelaksanaan   kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur, dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan  di   bidang intervensi penyakit infeksi  emerging.

 

Pasal 295

 

Subdirektorat Kekarantinaan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan    perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma, standar,    prosedur,    dan  kriteria,    dan   pemberian   bimbingan   teknis   dan supervisi,  serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di  bidang kekarantinaan kesehatan.

 

Pasal 296

 

Dalam melaksanakan  tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal  295, Subdirektorat Kekarantinaan  Kesehatan  menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan   bahan  perumusan  kebijakan   di  bidang  karantina   kesehatan

 

pelabuhan dan bandar udara dan karantina  kesehatan  wilayah dan pos lintas  batas darat negara;

  1. b. penyiapan bahan  pelaksanaan  kebijakan  di  bidang karantina  kesehatan pelabuhan dan bandar udara  dan karantina  kesehatan  wilayah dan pos lintas  batas darat negara;
  2. penyiapan bahan  penyusunan  norma, standar,  prosedur, dan kriteria  di bidang karantina kesehatan pelabuhan dan bandar udara dan karantina kesehatan wilayah dan pos lintas batas darat negara;
  3. penyiapan  bahan  bimbingan  teknis  dan  supervisi  di   bidang  karantina

kesehatan  pelabuhan dan bandar udara dan karantina  kesehatan wilayah dan pos lintas  batas darat negara;  dan

  1. pemantauan,   evaluasi,  dan  pelaporan  di   bidang  karantina   kesehatan

pelabuhan dan bandar udara dan karantina  kesehatan  wilayah dan pos lintas  batas darat negara.

 

Pasal 297

 

Subdirektorat Kekarantinaan  Kesehatan  terdiri atas:

 

  1. Seksi Karantina Kesehatan  Pelabuhan dan Bandar Udara;  dan
  2. Seksi Karantina Kesehatan Wilayah dan Pos Lintas  Batas  Darat Negara.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 73 -

 

Pasal  298

 

(1)    Seksi  Karantina  Kesehatan   Pelabuhan  dan  Bandar  Udara  mempunyai tugas   melakukan    penyiapan    bahan   perumusan    dan   pelaksanaan kebijakan,   penyusunan  norma,   standar,   prosedur,   dan  kriteria,   dan pemberian bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta  pemantauan,  evaluasi, dan  pelaporan  di   bidang  karantina  kesehatan  pelabuhan  dan  bandar udara.

(2)    Seksi  Karantina  Kesehatan  Wilayah dan  Pos Lintas  Batas  Darat  Negera mempunyai  tugas  melakukan  penyiapan  bahan  perumusan  dan pelaksanaan   kebijakan,   penyusunan   norma,    standar,    prosedur,   dan kriteria,     dan    pemberian    bimbingan    teknis    dan    supervisi,    serta pemantauan,   evaluasi,  dan  pelaporan  di   bidang  karantina   kesehatan wilayah dan pos lintas  batas darat negara.

 

Pasal 299

 

Subdirektorat  Imunisasi  mempunyai  tugas  melaksanakan   penyiapan perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma,    standar, prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan di bidang imunisasi.

 

Pasal300

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal 299, Subdirektorat lmunisasi menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan bahan  perumusan  kebijakan  di  bidang  imunisasi  dasar  dan imunisasi  lanjutan  dan khusus;
  2. b. penyiapan bahan  pelaksanaan  kebijakan  di  bidang imunisasi  dasar dan imunisasi lanjutan  dan khusus;
  3. penyiapan  bahan penyusunan norma,   standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan  dan khusus;

  1. penyiapan  bahan  bimbingan  teknis  dan  supervisi  di   bidang  imunisasi dasar dan imunisasi  lanjutan  dan khusus;  dan
  2. pemantauan,   evaluasi,  dan  pelaporan  di   bidang  imunisasi   dasar  dan

imunisasi lanjutan dan khusus.

 

Pasal  301

 

Subdirektorat lmunisasi terdiri atas:

  1. Seksi Imunisasi  Dasar;  dan
  2. Seksi Imunisasi  Lanjutan  dan Khusus.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 74  - Pasal 302

(1)   Seksi Imunisasi Dasar mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi,  dan pelaporan di bidang imunisasi dasar.

(2)    Seksi  Imunisasi   Lanjutan   dan  Khusus  mempunyai   tugas  melakukan penyiapan  bahan  perumusan  dan  pelaksanaan  kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan  supervisi,  serta   pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan  di   bidang imunisasi  lanjutan  dan khusus.

 

Pasal 303

 

Subbagian Tata Usaha  mempunyai  tugas melakukan  koordinasi penyusunan rencana,   program,  dan  anggaran,  pengelolaan keuangan  dan  barang  milik negara,  evaluasi  dan pelaporan, urusan  kepegawaian, tata laksana,  kearsipan, dan tata persuratan,  serta kerumahtanggaan Direktorat.

 

 

Bagian Kelima

 

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung

 

Pasal 304

 

Direktorat  Pencegahan  dan  Pengendalian Penyakit Menular  Langsung mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan  dan  pengendalian   penyakit  menular   langsung   sesuai   dengan ketentuan  peraturan perundang-undangan.

 

Pasal305

 

Dalam   melaksanakan   tugas   se bagaimana    dimaksud     dalam    Pasal   304, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan perumusan  kebijakan  di  bidang pencegahan dan pengendalian

 

tuberkulosis,  infeksi  saluran  pemapasan  akut,  HIV  AIDS   dan  penyakit infeksi    menular   seksual,     hepatitis    dan   penyakit    infeksi    saluran pencernaan, dan penyakit tropis menular langsung;

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 75 -

 

  1. penyiapan     pelaksanaan     kebijakan     di      bidang    pencegahan     dan pengendalian  tuberkulosis,  infeksi  saluran  pernapasan  akut,  HIV  AIDS dan  penyakit  infeksi   menular   seksual,  hepatitis   dan  penyakit  infeksi saluran pencernaan,  dan penyakit tropis menular langsung;
  2. penyiapan penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria di  bidang pencegahan dan  pengendalian  tuberkulosis,  infeksi  saluran  pernapasan akut,   HIV  AIDS   dan  penyakit  infeksi  menular  seksual,  hepatitis  dan penyakit   infeksi    saluran   pencernaan,   dan   penyakit   tropis   menular langsung;
  3. penyiapan   pemberian    bimbingan   teknis    dan    supervisi   di    bidang pencegahan dan  pengendalian  tuberkulosis,  infeksi  saluran  pernapasan akut,   HIV  AIDS   dan  penyakit  infeksi  menular  seksual,   hepatitis  dan penyakit   infeksi   saluran   pencernaan,   dan   penyakit   tropis   menular langsung;
  4. e. pemantauan,    evaluasi,   dan    pelaporan    di    bidang   pencegahan   dan pengendalian  tuberkulosis,  infeksi  saluran  pernapasan  akut,  HIV  AIDS dan  penyakit  infeksi   menular  seksual,   hepatitis   dan  penyakit  infeksi saluran pencernaan,  dan penyakit tropis menular langsung;  dan
  5. f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

 

Pasal306

 

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular terdiri atas:

  1. Subdirektorat Tuberkulosis;
  2. Subdirektorat Infeksi  Saluran Pernapasan Akut;
  3. Subdirektorat HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual;
  4. Subdirektorat   Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan;
  5. e. Subdirektorat Penyakit Tropis Menular Langsung;
  6. f. Subbagian Tata U saha;  dan
  7. Kelompok Jabatan Fungsional.

 

Pasal307

 

Subdirektorat Tuberkulosis mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma,    standar, prosedur,  dan kriteria,  dan  pemberian bimbingan teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian

tuberkulosis.

 

Pasal 308

 

Dalam    melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam    Pasal   307, Subdirektorat Tuberkulosis menyelenggarakan fungsi:

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 76  -

 

  1. penyiapan   bahan   perumusan    kebijakan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian tuberkulosis sensitif obat dan resistensi obat;
  2. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan   di   bidang  pencegahan   dan pengendalian  tuberkulosis sensitif obat dan resistensi obat;
  3. penyiapan  bahan penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di bidang  pencegahan   dan   pengendalian  tuberkulosis   sensitif   obat   dan resistensi obat;
  4. penyiapan bahan  bimbingan teknis  dan  supervisi di  bidang pencegahan

 

dan pengendalian tuberkulosis sensitif obat dan resistensi obat;  dan

 

  1. pemantauan,  evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian tuberkulosis sensitif obat dan resistensi obat.

 

Pasal 309

 

Subdirektorat Tuberkulosis terdiri atas:

 

  1. Seksi Tuberkulosis  Sensitif Obat;  dan b.     Seksi Tuberkulosis  Resistensi  Obat.

 

Pasal 310

 

(1)    Seksi Tuberkulosis  Sensitif Obat mempunyai tugas melakukan  penyiapan bahan   perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma, standar,   prosedur,   dan  kriteria,   dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan supervisi,   serta    pemantauan,    evaluasi,    dan   pelaporan   di     bidang pencegahan dan pengendalian  tuberkulosis sensitif obat.

(2)    Seksi   Tuberkulosis    Resistensi    Obat    mempunyai    tugas   melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar,  prosedur, dan kriteria,  dan pemberian  bimbingan teknis dan  supervisi,   serta  pemantauan,   evaluasi,  dan  pelaporan  di   bidang pencegahan dan pengendalian  tuberkulosis resistensi obat.

 

Pasal 311

 

Subdirektorat     Infeksi      Saluran     Pernapasan     Akut     mempunyai     tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta  pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan di  bidang pencegahan dan pengendalian infeksi  saluran  pernapasan akut.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 77 -

 

Pasal 312

 

Dalam   melaksanakan   tugas   se bagaimana   dimaksud   dalam    Pasal   311, Subdirektorat Infeksi  Saluran Pernapasan Akut menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan  bahan   perumusan   kebijakan   di   bidang   pencegahan   dan pengendalian infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia;
  2. penyiapan   bahan  pelaksanaan  kebijakan   di   bidang   pencegahan   dan pengendalian infeksi  saluran pernapasan atas dan pneumonia;
  3. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di bidang pencegahan dan pengendalian  infeksi  saluran pernapasan atas dan pneumonia;
  4. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan dan pengendalian infeksi  saluran pernapasan atas dan pneumonia;  dan
  5. pemantauan,     evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan

pengendalian infeksi  saluran pemapasan atas dan pneumonia.

 

Pasal 313

 

Subdirektorat Infeksi Saluran Pernapasan Akut terdiri atas:

  1. Seksi  Infeksi  Saluran Pernapasan Atas; dan d.     Seksi Pneumonia.

 

Pasal 314

 

( 1)      Seksi   Infeksi   Saluran   Pernapasan  Atas   mempunyai  tugas  melakukan penyiapan  bahan  perumusan   dan  pelaksanaan   kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan atas.

(2)    Seksi   Pneumonia    mempunyai    tugas    melakukan    penyiapan    bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta  pemantauan,  evaluasi,  dan  pelaporan  di  bidang  pencegahan  dan

pengendalian pneumonia.

 

Pasal 315

 

Subdirektorat  HIV  AIDS  dan  Penyakit Infeksi  Menular  Seksual  mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,  evaluasi,  dan  pelaporan  di  bidang pencegahan dan pengendalian HIV AIDS  dan penyakit infeksi menular seksual.

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 78 -

 

Pasal  316

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal 315, Subdirektorat   HIV   AIDS   dan  Penyakit   Infeksi   Menular   Seksual menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan   bahan   perumusan   kebijakan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian HIV AIDS dan penyakit infeksi  menular seksual;
  2. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan   di   bidang  pencegahan   dan pengendalian HIV AIDS dan penyakit infeksi  menular seksual;
  3. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di bidang  pencegahan  dan  pengendalian  HIV  AIDS   dan  penyakit  infeksi menular seksual;
  4. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan

 

dan pengendalian HIV AIDS  dan penyakit infeksi menular seksual;  dan

 

  1. pemantauan,  evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian HIV AIDS  dan penyakit infeksi menular seksual.

 

Pasal 317

 

Subdirektorat HIV AIDS  dan Penyakit Infeksi  Menular  Seksual terdiri atas:

 

  1. Seksi HIV AIDS;  dan

 

  1. Seksi Penyakit Infeksi  Menular  Seksual.

 

Pasal  318

 

( 1)    Seksi    HIV    AIDS     mempunyai   tugas    melakukan    penyiapan    bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian HIV AIDS.

(2)     Seksi  Penyakit   Infeksi   Menular   Seksual   mempunyai   tugas  melakukan

 

penyiapan  bahan  perumusan   dan  pelaksanaan   kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur, dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,  dan  pelaporan  di   bidang pencegahan dan pengendalian  penyakit infeksi menular seksual.

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 79 -

 

Pasal 319

 

Subdirektorat  Hepatitis  dan Penyakit Infeksi  Saluran  Pencernaan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan   dan   pengendalian     hepatitis     dan   penyakit    infeksi     saluran

pencernaan.

 

Pasal 320

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal 319, Subdirektorat  Hepatitis  dan Penyakit Infeksi  Saluran  Pencernaan menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan  bahan   perumusan    kebijakan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian hepatitis  dan penyakit infeksi  saluran pencernaan;
  2. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan   di   bidang  pencegahan   dan pengendalian hepatitis  dan penyakit infeksi  saluran pencernaan;
  3. penyiapan bahan penyusunan norma,   standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang  pencegahan   dan   pengendalian  hepatitis   dan  penyakit   infeksi saluran  pencernaan;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis  dan  supervrsi  di  bidang pencegahan

dan pengendalian hepatitis  dan penyakit infeksi  saluran  pencernaan;  dan

  1. pemantauan,  evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian hepatitis dan penyakit infeksi  saluran  pencernaan.

 

Pasal  321

 

Subdirektorat Hepatitis  dan Penyakit Infeksi  Saluran  Pencernaan terdiri atas:

  1. Seksi Hepatitis;  dan
  2. Seksi Penyakit Infeksi  Saluran  Pencernaan.

 

Pasal 322

 

( 1)    Seksi    Hepatitis     mempunyai    tugas    melakukan    penyiapan    bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian hepatitis.

(2)     Seksi Penyakit Infeksi  Saluran  Pencernaan mempunyai  tugas melakukan

penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan  di   bidang pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi  saluran pencernaan.

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 80 -

 

Pasal 323

 

Subdirektorat  Penyakit  Tropis  Menular  Langsung  mempunyai  tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan ke bijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta  pemantauan,  evaluasi, dan  pelaporan  di  bidang pencegahan dan pengendalian penyakit tropis menular langsung.

 

Pasal 324

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal 323, Subdirektorat Penyakit Tropis Menular Langsung menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan   bahan   perumusan    kebijakan    di    bidang   pencegahan   dan

pengendalian kusta dan frambusia;

  1. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan    di   bidang  pencegahan   dan pengendalian kusta dan frambusia;
  2. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang pencegahan dan pengendalian kusta dan frambusia;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan dan pengendalian kusta dan frambusia;  dan
  2. pemantauan,   evaluasi,     dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian kusta dan frambusia.

 

Pasal 325

 

Subdirektorat Penyakit Tropis Menular Langsung terdiri atas:

  1. Seksi Kusta;  dan b.     Seksi Frambusia.

 

Pasal 326

 

( 1)    Seksi  Kusta  mempunyai tugas  melakukan  penyiapan  bahan perumusan dan pelaksanaan  kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur, dan kriteria,     dan    pemberian    bimbingan   teknis    dan    strpervrsr,     serta pemantauan,   evaluasi,    dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian kusta.

(2)     Seksi    Frambusia   mempunyai     tugas   melakukan    penyiapan   bahan

perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan kriteria,  dan  pemberian bimbingan teknis  dan  supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian frambusia.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 81  - Pasal 327

Subbagian Tata Usaha  mempunyai tugas melakukan  koordinasi  penyusunan

rencana,   program,  dan  anggaran,  pengelolaan keuangan  dan  barang  milik negara,  evaluasi dan pelaporan, urusan  kepegawaian, tata laksana,  kearsipan, dan tata persuratan,  serta kerumahtanggaan Direktorat.

 

 

Bagian Keenam

Direktorat Pencegahan  dan Pengendalian Penyakit Tolar Vektor dan Zoonotik

 

 

Pasal328

 

Direktorat  Pencegahan  dan  Pengendalian  Penyakit Tular Vektor dan  Zoonotik mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan  dan  pengendalian  penyakit   tular  vektor  dan  zoonotik   sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Pasal329

 

Dalam   melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam    Pasal   328

Direktorat Pencegahan  dan  Pengendalian  Penyakit Tular Vektor dan  Zoonotik menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan perumusan  kebijakan  di  bidang pencegahan dan pengendalian

malaria,  zoonosis, filariasis  dan kecacingan, dan arbovirosis, serta vektor dan binatang pembawa penyakit;

  1. penyiapan pelaksanaan  kebijakan  di bidang pencegahan dan pengendalian

malaria,  zoonosis, filariasis  dan kecacingan, dan arbovirosis, serta vektor dan binatang pembawa penyakit;

  1. c. penyiapan  penyusunan norma,  standar,  prosedur, dan kriteria di  bidang

pencegahan dan pengendalian  malaria,  zoonosis, filariasis  dan kecacingan, dan arbovirosis, serta vektor dan binatang pembawa penyakit;

  1. penyiapan   pemberian    bimbingan   teknis    dan    supervisi   di     bidang

pencegahan dan pengendalian  malaria,  zoonosis, filariasis  dan kecacingan, dan arbovirosis, serta vektor dan binatang pembawa penyakit;

  1. pemantauan,  evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian malaria, zoonosis, filariasis dan kecacingan, dan arbovirosis, serta vektor dan binatang pembawa penyakit;  dan
  2. f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 82 -

 

Pasal 330

 

Direktorat  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  Tular Vektor dan  Zoonotik terdiri atas:

  1. Subdirektorat Malaria;

 

  1. Subdirektorat Zoonosis;

 

  1. Subdirektorat Filariasis  dan Kecacingan;

 

  1. Subdirektorat Arbovirosis;

 

  1. Subdirektorat Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit;
  2. f. Subbagian Tata Usaha;  dan

 

  1. Kelompok Jabatan Fungsional.

 

Pasal 331

 

Subdirektorat Malaria mempunyai tugas melaksanakan  penyiapan perumusan dan  pelaksanaan   kebijakan,   penyusunan  norma,   standar,   prosedur,   dan kriteria,  dan  pemberian  bimbingan teknis  dan  supervisi,  serta  pemantauan, evaluasi,  dan pelaporan di  bidang pencegahan dan pengendalian malaria.

 

Pasal332

 

Dalam   melaksanakan   tugas   sebagaimana   dimaksud   dalam    Pasal   331, Subdirektorat Malaria menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan    bahan   perumusan   kebijakan    di    bidang   pencegahan   dan pengendalian malaria;
  2. penyiapan    bahan  pelaksanaan  kebijakan    di   bidang  pencegahan   dan

 

pengendalian malaria;

 

  1. penyiapan bahan  penyusunan  norma,   standar,  prosedur,  dan kriteria  di bidang pencegahan dan pengendalian malaria;
  2. penyiapan bahan  bimbingan teknis  dan  supervisi di  bidang pencegahan dan pengendalian malaria;  dan
  3. pemantauan,     evaluasi,     dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan

 

pengendalian malaria.

 

Pasal 333

 

Subdirektorat Malaria terdiri atas:

 

  1. a. SeksiPencegahan;dan     Seksi Pengendalian.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 83  - Pasal 334

(1)     Seksi   Pencegahan    mempunyai   tugas   melakukan    penyiapan    bahan

perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta  pemantauan,   evaluasi,  dan  pelaporan  di  bidang pemutusan  mata rantai penularan penyakit dan perlindungan  spesifik malaria.

(2)    Seksi   Pengendalian    mempunyai    tugas   melakukan   penyiapan   bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan di  bidang pengurangan  atau penghilangan  faktor  risiko  penyakit  dan  peniadaan   sumber  atau  agen

penularan malaria.

 

Pasal 335

 

Subdirektorat     Zoonosis     mempunyai     tugas    melaksanakan     penyiapan perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma,    standar, prosedur,  dan kriteria,  dan  pemberian bimbingan teknis  dan  supervisi, serta pemantauan, evaluasi,  dan pelaporan di  bidang pencegahan dan pengendalian

zoonosis.

 

Pasal 336

 

Dalam   melaksanakan   tugas   sebagaimana   dimaksud   dalam    Pasal   335, Subdirektorat Zoonosis menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan   bahan   perumusan    kebijakan    di    bidang   pencegahan   dan

 

pengendalian zoonosis;

  1. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan    di   bidang  pencegahan   dan pengendalian zoonosis;
  2. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang pencegahan dan pengendalian zoonosis;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis  dan  supervisi di  bidang pencegahan dan pengendalian zoonosis; dan
  2. pemantauan,    evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan

 

pengendalian zoonosis.

 

Pasal  337

 

Subdirektorat Zoonosis terdiri atas:

  1. SeksiPencegahan;dan b.     Seksi Pengendalian.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 84  - Pasal 338

(1)     Seksi   Pencegahan   mempunyai   tugas   melakukan    penyiapan    bahan

perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi,  dan  pelaporan  di  bidang pemutusan  mata rantai penularan penyakit dan perlindungan  spesifik zoonosis.

(2)    Seksi  Pengendalian   mempunyai   tugas   melakukan    penyiapan   bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi,  dan pelaporan di  bidang pengurangan  atau penghilangan  faktor  risiko  penyakit  dan  peniadaan   sumber  atau  agen

penularan   zoonosis.

 

Pasal 339

 

Subdirektorat Filariasis dan Kecacingan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan   perumusan    dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma, standar,    prosedur,    dan   kriteria,    dan   pemberian   bimbingan   teknis   dan supervisi, serta  pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan di  bidang pencegahan dan pengendalian filariasis dan kecacingan.

 

Pasal340

 

Dalam  melaksanakan  tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal  339, Subdirektorat Filariasis dan Kecacingan menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan   bahan   perumusan   kebijakan    di    bidang   pencegahan   dan pengendalian filariasis  dan kecacingan;
  2. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan    di   bidang  pencegahan   dan

pengendalian filariasis  dan kecacingan;

  1. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di bidang pencegahan dan pengendalian bidang filariasis  dan kecacingan;
  2. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan

dan pengendalian filariasis  dan kecacingan;  dan

  1. pemantauan,   evaluasi,     dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian bidang filariasis  dan kecacingan.

 

Pasal 341

 

Subdirektorat Filariasis dan Kecacingan terdiri atas:

 

  1. a. Seksi Filariasis; dan       Seksi Kecacingan.

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 85  - Pasal  342

(1)     Seksi    Filariasis    mempunyai    tugas    melakukan     penyiapan     bahan

perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian filariasis.

(2)    Seksi   Kecacingan    mempunyai   tugas    melakukan    penyiapan    bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta  pemantauan,   evaluasi,  dan  pelaporan  di   bidang  pencegahan  dan

pengendalian kecacingan.

 

Pasal 343

 

Subdirektorat  Arbovirosis  mempunyai   tugas  melaksanakan  penyiapan perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma,    standar, prosedur,  dan kriteria,  dan  pemberian bimbingan teknis  dan  supervisi,  serta pemantauan, evaluasi,  dan pelaporan di  bidang pencegahan dan pengendalian

arbovirosis.

 

Pasal 344

 

Dalam   melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam    Pasal   343, Subdirektorat Arbovirosis  menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan   bahan   perumusan    kebijakan    di    bidang   pencegahan   dan

pengendalian arbovirosis;

  1. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan   di    bidang  pencegahan   dan pengendalian arbovirosis;
  2. penyiapan bahan  penyusunan  norma,   standar,   prosedur  dan kriteria  di

bidang pencegahan dan pengendalian  arbovirosis;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan dan pengendalian arbovirosis;  dan
  2. pemantauan,    evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan

 

pengendalian arbovirosis.

Pasal345

 

Subdirektorat Arbovirosis  terdiri atas:

 

  1. a. SeksiPencegahan;  dan      Seksi Pengendalian.

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 86  -

 

Pasal 346

 

( 1)     Seksi   Pencegahan   mempunyai   tugas    melakukan    penyiapan    bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi,  dan pelaporan di  bidang   pemutusan  mata rantai penularan penyakit dan perlindungan  spesifik arbovirosis.

(2)    Seksi   Pengendalian    mempunyai   tugas   melakukan   penyiapan   bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi,  dan  pelaporan  di  bidang pengurangan  atau penghilangan faktor risiko penyakit dan peniadaan sumber atau agen penularan  arbovirosis

 

Pasal347

 

Subdirektorat Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta  pemantauan,  evaluasi,   dan pelaporan di  bidang pencegahan dan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit.

 

Pasal 348

 

Dalam    melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam    Pasal    34 7, Subdirektorat   Vektor  dan   Binatang   Pembawa  Penyakit   menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan    bahan   perumusan   kebijakan    di    bidang   pencegahan   dan

 

pengendalian di bidang vektor dan binatang pembawa penyakit;

 

  1. penyiapan   bahan  pelaksanaan  kebijakan   di   bidang  pencegahan   dan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit;
  2. penyiapan bahan  penyusunan  norma,   standar,  prosedur,  dan kriteria  di

 

bidang  pencegahan   dan  pengendalian  vektor  dan   binatang   pembawa penyakit;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan

 

dan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit;  dan

 

  1. pemantauan,  evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit.

 

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 87  -

 

Pasal 349

 

Subdirektorat Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit terdiri atas:

  1. a. Seksi Vektor;  dan
  2. Seksi Binatang Pembawa Penyakit.

 

Pasal 350

 

(1)     Seksi Vektor  mempunyai tugas melakukan  penyiapan  bahan perumusan dan pelaksanaan  kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,     dan    pemberian     bimbingan     teknis     dan     supervisi,    serta pemantauan,    evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian vektor.

(2)     Seksi    Binatang     Pembawa   Penyakit   mempunyai    tugas    melakukan

penyiapan  bahan  perumusan  dan  pelaksanaan  kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan  di   bidang pencegahan dan pengendalian binatang pembawa penyakit.

 

Pasal 351

 

Subbagian  Tata  Usaha  mempunyai tugas melakukan  koordinasi  penyusunan rencana,   program,  dan  anggaran,  pengelolaan keuangan  dan  barang  milik negara,  evaluasi  dan pelaporan, urusan  kepegawaian, tata laksana,  kearsipan, dan tata persuratan,  serta kerumahtanggaan Direktorat.

 

 

Bagian Ketujuh

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular

 

Pasal 352

 

Direktorat Pencegahan  dan Pengendalian  Penyakit Tidak Menular mempunyai tugas  melaksanakan  perumusan   dan  pelaksanaan  kebijakan,   penyusunan norma,  standar,  prosedur, dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi,   serta pemantauan,   evaluasi, dan  pelaporan  di  bidang pencegahan dan pengendalian penyakit tidak  menular sesuai  dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

 

Pasal 353

 

Dalam    melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam    Pasal    352, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular menyelenggarakan fungsi:

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 88 -

 

  1. a. penyiapan perumusan  kebijakan di  bidang pencegahan dan pengendalian penyakit  paru  kronik dan  gangguan imunologi,  jantung  dan pembuluh darah,  kanker  dan  kelainan   darah,   diabetes  mellitus  dan  gangguan metabolik,  dan gangguan indera dan fungsional;
  2. penyiapan pelaksanaan  kebijakan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit paru  kronik  dan  gangguan  imunologi,  jantung  dan pembuluh darah,  kanker  dan  kelainan  darah,  diabetes   mellitus  dan  gangguan metabolik,  dan gangguan indera dan fungsional;
  3. penyiapan penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria di  bidang pencegahan   dan   pengendalian   penyakit   paru   kronik   dan   gangguan imunologi,  jantung  dan  pembuluh  darah,  kanker  dan  kelainan  darah, diabetes mellitus dan gangguan metabolik, dan gangguan indera dan fungsional;
  4. d. penyiapan   pemberian    bimbingan   teknis    dan    supervisi    di    bidang pencegahan   dan   pengendalian   penyakit   paru   kronik   dan   gangguan imunologi,  jantung  dan  pembuluh darah,  kanker  dan  kelainan  darah, diabetes mellitus dan gangguan metabolik, dan gangguan indera dan fungsional;
  5. pemantauan,    evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian penyakit paru kronik dan  gangguan imunologi, jantung dan pembuluh  darah,   kanker   dan  kelainan   darah,   diabetes   mellitus  dan gangguan metabolik,  dan gangguan indera dan fungsional;  dan
  6. f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

 

Pasal 354

 

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular terdiri atas:

  1. a. Subdirektorat Penyakit Paru Kronik  dan Gangguan Imunologi;
  2. Subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah;
  3. Subdirektorat   Penyakit Kanker dan Kelainan Darah;
  4. Subdirektorat Penyakit Diabetes Mellitus dan Gangguan Metabolik;

 

  1. e. Subdirektorat Gangguan Indera dan Fungsional;

 

  1. f. Subbagian Tata Usaha;  dan

 

  1. Kelompok Jabatan Fungsional.

 

 

MENTERI  KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 89 -

 

Pasal 355

 

Subdirektorat  Penyakit  Paru  Kronik   dan  Gangguan  Imunologi   mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi.

 

Pasal 356

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal 355, Subdirektorat   Penyakit   Paru   Kronik   dan   Gangguan   Imunologi menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan   bahan   perumusan    kebijakan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi;
  2. penyiapan    bahan  pelaksanaan  kebijakan    di   bidang  pencegahan   dan

pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi;

  1. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi;
  2. penyiapan  bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan  imunologi;  dan
  3. pemantauan,  evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi.

 

Pasal 357

 

Subdirektorat Penyakit Paru Kronik dan Gangguan  Imunologi terdiri atas:

  1. Seksi Penyakit Paru Kronik;  dan
  2. Seksi Penyakit Gangguan Imunologi.

 

Pasal358

 

( 1)    Seksi  Penyakit  Paru   Kronik   mempunyai  tugas   melakukan   penyiapan bahan  perumusan   dan  pelaksanaan  kebijakan,    penyusunan   norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervrsi,    serta    pemantauan,    evaluasi,   dan    pelaporan    di     bidang pencegahan dan pengendalian  penyakit paru kronik.

(2)     Seksi   Penyakit   Gangguan    Imunologi    mempunyai    tugas   melakukan

penyiapan  bahan  perumusan   dan  pelaksanaan   kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian  bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,   dan  pelaporan  di   bidang pencegahan dan pengendalian  gangguan imunologi.

 

 

MENTERI  KESEHATAN

REPUBLIK INDONESIA

- 90  - Pasal 359

Subdirektorat   Penyakit  Jantung  dan   Pembuluh  Darah    mempunyai  tugas

melaksanakan     penyiapan      perumusan     dan     pelaksanaan     kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian  penyakit jantung dan pembuluh darah.

 

Pasal 360

Dalam   melaksanakan   tugas   sebagaimana   dimaksud   dalam    Pasal   359, Subdirektorat   Penyakit  Jantung   dan  Pembuluh  Darah   menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan   bahan   perumusan   kebijakan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian penyakitjantung dan pembuluh darah;
  2. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan   di   bidang  pencegahan   dan pengendalian penyakitjantung dan pembuluh darah;
  3. c. penyiapan  bahan penyusunan norma,   standar,  prosedur, dan kriteria  di

bidang pencegahan  dan  pengendalian  penyakit  jantung  dan  pembuluh darah;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan

dan pengendalian penyakitjantung dan pembuluh darah;  dan

  1. pemantauan,  evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah.

 

Pasal 361

 

Subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah  terdiri atas:

  1. a. Seksi Penyakit Jantung;  dan
  2. Seksi Penyakit Pembuluh Darah.

 

Pasal 362

 

(1)    Seksi  Penyakit  Jantung mempunyai tugas  melakukan  penyiapan  bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit jantung.

(2)     Seksi Penyakit Pembuluh  Darah  mempunyai tugas melakukan  penyiapan

bahan   perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma, standar,   prosedur,  dan  kriteria,   dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan supervisi,   serta    pemantauan,    evaluasi,    dan   pelaporan   di     bidang pencegahan dan pengendalian  penyakit pembuluh darah.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 91  -

 

Pasal 363

 

Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian  bimbingan teknis dan supervisi, serta  pemantauan,  evaluasi,   dan pelaporan di  bidang pencegahan dan pengendalian penyakit kanker dan kelainan darah.

 

Pasal 364

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal 363, Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan  Darah menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan  bahan   perumusan    kebijakan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian penyakit kanker dan kelainan  darah;
  2. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan   di   bidang  pencegahan  dan pengendalian penyakit kanker dan kelainan  darah;
  3. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang  pencegahan   dan   pengendalian  penyakit  kanker   dan   kelainan darah;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan

dan pengendalian penyakit kanker dan kelainan  darah;  dan

  1. pemantauan,    evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian penyakit kanker dan kelainan darah.

 

Pasal 365

 

Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan  Darah  terdiri atas:

  1. Seksi Penyakit Kanker;  dan
  2. Seksi Penyakit Kelainan  Darah.

 

Pasal 366

 

( 1)     Seksi  Penyakit  Kanker  mempunyai  tugas  melakukan  penyiapan  bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit kanker.

(2)     Seksi  Penyakit  Kelainan  Darah  mempunyai tugas  melakukan  penyiapan

bahan  perumusan   dan  pelaksanaan  kebijakan,    penyusunan   norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi,    serta   pemantauan,    evaluasi,   dan    pelaporan    di     bidang pencegahan dan pengendalian penyakit kelainan darah.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 92 -

 

Pasal 367

 

Subdirektorat Penyakit Diabetes Mellitus dan Gangguan Metabolik mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan  dan   pengendalian   penyakit  diabetes   mellitus   dan   gangguan metabolik.

 

Pasal368

Dalam melaksanakan  tugas sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal 367, Subdirektorat Penyakit Diabetes Mellitus dan Gangguan Metabolik menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan   bahan   perumusan   kebijakan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian penyakit diabetes mellitus dan gangguan metabolik;
  2. b. penyiapan   bahan  pelaksanaan  kebijakan   di   bidang  pencegahan  dan pengendalian penyakit diabetes mellitus dan gangguan metabolik;
  3. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit diabetes mellitus dan gangguan metabolik;
  4. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan

dan pengendalian penyakit diabetes mellitus dan gangguan metabolik;  dan e.      pemantauan,     evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan

pengendalian penyakit diabetes mellitus dan gangguan metabolik.

 

Pasal369

 

Subdirektorat Penyakit Diabetes  Mellitus dan Gangguan Metabolik terdiri atas:

  1. a. Seksi Penyakit Diabetes  Mellitus;  dan      Seksi Penyakit Gangguan Metabolik.

 

Pasal 370

 

(1)    Seksi Penyakit Diabetes  Mellitus mempunyai tugas melakukan  penyiapan bahan  perumusan   dan  pelaksanaan  kebijakan,    penyusunan   norma, standar,   prosedur,   dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan supervisi,     serta   pemantauan,    evaluasi,   dan    pelaporan    di     bidang pencegahan dan pengendalian penyakit diabetes  mellitus.

(2)     Seksi   Penyakit    Gangguan   Metabolik    mempunyai   tugas    melakukan

penyiapan bahan  perumusan  dan  pelaksanaan  kebijakan,  penyusunan norma,  standar,  prosedur, dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,   dan   pelaporan   di   bidang pencegahan dan pengendalian penyakit gangguan  metabolik.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 93  - Pasal 371

Subdirektorat      Gangguan    Indera      dan    Fungsional    mempunyai      tugas

melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar,  prosedur, dan kriteria,  dan pemberian  bimbingan teknis dan supervisi,  serta pemantauan,  evaluasi,  dan  pelaporan  di  bidang pencegahan dan pengendalian gangguan  indera dan fungsional.

 

Pasal372

 

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal 371, Subdirektorat Gangguan Indera dan Fungsional menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan    bahan   perumusan   kebijakan    di    bidang   pencegahan   dan pengendalian gangguan indera dan fungsional;
  2. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan    di   bidang  pencegahan   dan pengendalian gangguan indera dan fungsional;
  3. penyiapan  bahan penyusunan norma,   standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang pencegahan dan pengendalian  gangguan  indera dan fungsional;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang pencegahan dan pengendalian gangguan indera dan fungsional;  dan
  2. pemantauan,   evaluasi,     dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian gangguan  indera dan fungsional.

 

Pasal 373

 

Subdirektorat Gangguan Indera dan Fungsional terdiri atas:

  1. Seksi Gangguan Indera;  dan b.     Seksi Gangguan  Fungsional.

 

Pasal 374

 

(1)    Seksi  Gangguan  Indera  mempunyai tugas  melakukan  penyiapan  bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,  dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan  supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian gangguan  indera.

(2)     Seksi  Gangguan    Fungsional  mempunyai  tugas   melakukan   penyiapan

bahan   perumusan   dan  pelaksanaan  kebijakan,    penyusunan   norma,

 

 

standar,   prosedur,   dan  kriteria,   dan  pemberian   bimbingan supervisi,   serta    pemantauan,    evaluasi,   dan    pelaporan pencegahan dan pengendalian  gangguan fungsional.

 

teknis  dan di     bidang

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 94  - Pasal375

Subbagian Tata Usaha  mempunyai tugas melakukan  koordinasi penyusunan rencana,   program,  dan  anggaran,  pengelolaan keuangan  dan  barang  milik negara,  evaluasi  dan pelaporan, urusan  kepegawaian, tata laksana,  kearsipan, dan tata persuratan, serta kerumahtanggaan Direktorat.

 

 

Bagian Kedelapan

 

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah  Kesehatan Jiwa dan NAPZA Pasal 376

Direktorat  Pencegahan dan Pengendalian Masalah  Kesehatan  Jiwa dan NAPZA

 

mempunyai tugas   melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian  masalah  kesehatan jiwa dan Narkotika, Psikotropika,   dan   Zat  Adiktif  Lainnya   (NAPZA)   sesuai   dengan  ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Pasal377

 

Dalam    melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud    dalam   Pasal   376, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan perumusan kebijakan di  bidang pencegahan dan pengendalian masalah  kesehatan  jiwa anak  dan  remaja,  kesehatan  jiwa dewasa dan lanjut usia,  dan penyalahgunaan  NAPZA;
  2. penyiapan pelaksanaan  kebijakan  di bidang pencegahan dan pengendalian

 

masalah   kesehatan  jiwa anak  dan  remaja,   kesehatan  jiwa  dewasa dan lanjut usia,  dan penyalahgunaan  NAPZA;

  1. penyiapan   penyusunan    norma,    standar,    prosedur,    dan   kriteria    di pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan  jiwa anak dan remaja, kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia,  dan penyalahgunaan  NAPZA;
  2. penyiapan   pemberian    bimbingan   teknis    dan    supervisr    di     bidang pencegahan dan pengendalian  masalah kesehatan jiwa anak dan remaja, kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia,  dan penyalahgunaan  NAPZA;

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 95  -

 

  1. e. pemantauan,   evaluasi,   dan     pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian masalah  kesehatan  jiwa   anak dan remaja,  kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia,  dan penyalahgunaan  NAPZA; dan
  2. f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

 

Pasal 378

 

Direktorat  Pencegahan dan Pengendalian Masalah  Kesehatan  Jiwa dan NAPZA

terdiri atas:

 

  1. a. Subdirektorat Masalah Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja;
  2. b. Subdirektorat Masalah Kesehatan Jiwa Dewasa dan Lanjut Usia;
  3. Subdirektorat Masalah  Penyalahgunaan NAPZA;
  4. Subbagian Tata Usaha;  dan
  5. e. Kelompok Jabatan Fungsional.

 

Pasal 379

 

Subdirektorat  Masalah  Kesehatan  Jiwa Anak  dan Remaja  mempunyai  tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi,  serta pemantauan,  evaluasi,  dan  pelaporan  di  bidang pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan jiwa  anak dan remaja.

 

Pasal380

 

Dalam  melaksanakan  tugas sebagaimana dimaksud dalam  Pasal  379, Subdirektorat  Masalah  Kesehatan  Jiwa Anak  dan Remaja  menyelenggarakan fungsi:

  1. a. penyiapan   bahan   perumusan    kebijakan    di   bidang   pencegahan   dan

pengendalian masalah kesehatan jiwa anak dan remaja;

  1. b. penyiapan   bahan  pelaksanaan  kebijakan   di   bidang  pencegahan   dan pengendalian masalah kesehatan jiwa  anak dan remaja;
  2. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang pencegahan  dan  pengendalian masalah  kesehatan jiwa anak dan remaja;

  1. penyiapan bahan  bimbingan teknis dan  supervisi di  bidang   pencegahan

dan pengendalian masalah kesehatan jiwa anak dan remaja;  dan

  1. pemantauan,    evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian masalah kesehatan jiwa  anak dan remaja.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 96  -

 

Pasal 381

 

Subdirektorat Masalah  Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja terdiri atas:

  1. Seksi Kesehatan Jiwa Anak;  dan b.     Seksi Kesehatan Jiwa Remaja.

 

Pasal 382

 

(1)    Seksi  Kesehatan   Jiwa  Anak   mempunyai  tugas   melakukan   penyiapan bahan   perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma, standar,   prosedur,  dan  kriteria,   dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan supervisi,   serta    pemantauan,    evaluasi,    dan    pelaporan    di     bidang pencegahan dan pengendalian  masalah kesehatan jiwa anak.

(2)    Seksi  Kesehatan  Jiwa  Remaja  mempunyai  tugas  melakukan  penyiapan bahan   perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma, standar,   prosedur,   dan  kriteria,   dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan supervisi,   serta    pemantauan,     evaluasi,    dan    pelaporan    di     bidang pencegahan dan pengendalian  masalah  kesehatan jiwa remaja.

 

Pasal383

 

Subdirektorat Masalah  Kesehatan Jiwa Dewasa dan Lanjut Usia   mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis  dan  supervisi,  serta  pemantauan,  evaluasi, dan  pelaporan  di  bidang pencegahan dan pengendalian  masalah kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia.

 

Pasal 384

 

Dalam    melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam   Pasal   383, Subdirektorat  Masalah  Kesehatan  Jiwa Dewasa  dan  Lanjut  Usia menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan   bahan   perumusan    kebijakan    di    bidang   pencegahan   dan

pengendalian masalah kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia;

  1. penyiapan  bahan   pelaksanaan   kebijakan   di   bidang  pencegahan  dan pengendalian masalah  kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia;
  2. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang pencegahan dan pengendalian masalah  kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia;  dan

  1. d. penyiapan bahan  bimbingan teknis  dan  supervisi di  bidang pencegahan

dan pengendalian masalah kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia;  dan

  1. pemantauan,  evaluasi,   dan   pelaporan   di    bidang   pencegahan   dan pengendalian masalah  kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia.

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 97 -

 

Pasal 385

 

Subdirektorat Masalah  Kesehatan Jiwa Dewasa dan Lanjut Usia terdiri atas:

  1. a. Seksi Kesehatan Jiwa Dewasa;  dan      Seksi Kesehatan Jiwa Lanjut Usia.

 

Pasal 386

 

( 1)    Seksi  Kesehatan  Jiwa Dewasa  mempunyai  tugas  melakukan  penyiapan bahan   perumusan   dan   pelaksanaan   kebijakan,    penyusunan   norma, standar,   prosedur,   dan  kriteria,  dan  pemberian  bimbingan  teknis  dan supervisi,   serta    pemantauan,    evaluasi,    dan   pelaporan   di     bidang pencegahan dan pengendalian masalah  kesehatan jiwa dewasa.

 

(2)    Seksi   Kesehatan    Jiwa   Lanjut    Usia    mempunyai    tugas   melakukan penyiapan  bahan  perumusan   dan  pelaksanaan   kebijakan,  penyusunan norma, standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian  bimbingan teknis dan  supervisi,  serta  pemantauan,   evaluasi,   dan   pelaporan   di   bidang pencegahan dan pengendalian  masalah kesehatan jiwa lanjut usia.

 

Pasal 387

 

Subdirektorat   Masalah   Penyalahgunaan   NAPZA   mempunyai  tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria,  dan pemberian  bimbingan teknis dan supervisi,   serta  pemantauan,    evaluasi,  dan   pelaporan   di   bidang  masalah

penyalahgunaan  NAPZA.

 

Pasal388

 

Dalam   melaksanakan   tugas   sebagaimana    dimaksud   dalam    Pasal   387, Subdirektorat Masalah  Penyalahgunaan  NAPZA menyelenggarakan fungsi:

  1. penyiapan       bahan     perumusan     kebijakan       di       bidang     masalah

penyalahgunaan  NAPZA di masyarakat dan institusi;

  1. penyiapan     bahan     pelaksanaan      kebijakan      di      bidang     masalah penyalahgunaan NAPZA di masyarakat dan institusi;
  2. penyiapan bahan  penyusunan  norma,  standar,  prosedur,  dan kriteria  di

bidang masalah  penyalahgunaan  NAPZA di masyarakat dan institusi;

  1. penyiapan  bahan   bimbingan  teknis  dan  supervisi  di   bidang  masalah penyalahgunaan NAPZA di masyarakat dan institusi;  dan
  2. pemantauan,  evaluasi, dan pelaporan di  bidang masalah  penyalahgunaan

 

NAPZA di masyarakat dan institusi.

 

 

 

MENTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 98  - Pasal389

Subdirektorat Masalah  Penyalahgunaan  NAPZA terdiri atas:

  1. Seksi Masalah  Penyalahgunaan  NAPZA di Masyarakat;  dan b.     Seksi Masalah  Penyalahgunaan  NAPZA di Institusi.

 

Pasal 390

 

(1)    Seksi Masalah  Penyalahgunaan  NAPZA di  Masyarakat  mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan  norma,   standar,   prosedur,   dan  kriteria,   dan  pemberian bimbingan   teknis   dan   supervisi,    serta   pemantauan,    evaluasi,   dan pelaporan di bidang masalah penyalahgunaan  NAPZA di masyarakat.

(2)    Seksi  Masalah   Penyalahgunaan   NAPZA  di   lnstitusi   mempunyai  tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan  norma,   standar,   prosedur,   dan  kriteria,   dan  pemberian bimbingan  teknis   dan   supervisi,   serta   pemantauan,    evaluasi,   dan pelaporan di bidang masalah  penyalahgunaan  NAPZA di institusi.

 

Pasal 391

 

Subbagian Tata Usaha  mempunyai tugas  melakukan  koordinasi penyusunan rencana,   program,  dan  anggaran,  pengelolaan keuangan  dan  barang  milik negara,  evaluasi  dan pelaporan, urusan  kepegawaian, tata laksana,  kearsipan, dan tata persuratan, serta kerumahtanggaan Direktorat.